MENYAPA BUMI NUSA CENDANA


Menikmati keindahan Pantai Pero

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh

Sepenggal bait terakhir puisi berjudul “BERI DAKU SUMBA” karya penyair kondang Taufiq Ismail kembali menari-menari di benak saya tatkala pesawat yang membawa saya dari Kupang akan mendarat di Bandara Tambolaka, Sumba Barat Daya. Perasaan saya bahagia tak terkira hari itu. Alasannya ada dua. Pertama, saya bahagia karena akhirnya bisa menginjakkan kaki di Pulau Sumba setelah sekian lama memimpikannya. Kedua, bayangan akan padang sabana luas dengan ratusan kuda sedang merumput di atasnya seperti digambarkan dalam puisi tersebut akan segera mewujud nyata. Namun, saya masih harus bersabar untuk bisa menjelajah alam Sumba. Dari Bandara Tambolaka, saya harus melanjutkan perjalanan sejauh 43 km ke Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat. Dari kota inilah petualangan sebenarnya di Bumi Nusa Cendana akan saya mulai.

Kampung Tarung
Perkenalan saya dengan budaya Sumba dimulai dari Kampung Tarung, sebuah kampung adat tak jauh dari pusat Kota Waikabubak. Sangat mudah mencapai kampung ini. Dari hotel tempat saya menginap di Jalan Ahmad Yani, saya hanya perlu berjalan kaki sekitar 15 menit. Karena Kampung Tarung berada di atas bukit, saya harus berjalan sedikit mendaki. Cukup menguras tenaga memang, karena saya melakukannya menjelang tengah hari, saat matahari bersinar dengan teriknya. 

 
 Rumah-rumah beratap ilalang yang menjulang tinggi di Kampung Tarung

Rumah-rumah beratap jerami yang menjulang tinggi dan kuburan batu menyambut kedatangan saya di Kampung Tarung. Terlihat bapak-bapak dan ibu-ibu duduk-duduk santai di beranda rumah mereka. Beberapa anjing menggonggong dan membuntuti saya, membuat saya ketakutan. Untunglah ada seorang ibu baik hati bernama Lida Wawomude, menyambut kedatangan saya. Beliau menawarkan souvenir khas Sumba kepada saya sambil mengusir anjing-anjing tersebut. Tak hanya itu, beliau juga mengajak saya mampir ke rumahnya dan bercerita banyak tentang Kampung Tarung.
 

Tanduk kerbau dan rahang babi di dinding depan rumah warga Kampung Tarung

Berada di Kampung Tarung membuat saya seperti ditarik mundur ke zaman batu (megalitikum). Rumah-rumah warga masih mempertahankan gaya tradisional khas Sumba, berbentuk rumah panggung dari kayu dan bambu dengan atap terbuat dari daun ilalang, menjulang tinggi mirip Joglo (Rumah Adat Khas Jawa Tengah). Secara garis besar, Rumah Adat Khas Sumba yang biasa disebut Uma ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu : bagian atap rumah (Toko Uma), bagian tengah/ruang hunian (Bei Uma), dan bagian bawah/kolong rumah (Kali Kabunga). Toko Uma berbentuk seperti menara biasa digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka dan hasil panen. Bei Uma dibangun tidak menyentuh tanah, merupakan tempat hunian manusia. Akses masuk ke ruang ini dibedakan antara pintu masuk untuk pria dan wanita. Kali Kabunga yang terletak paling bawah merupakan kandang ternak seperti kuda, kerbau kambing, dan babi. Yang membuat saya terpana, di beberapa rumah warga, dinding depannya dihiasi puluhan tanduk kerbau berukuran cukup besar. Tanduk-tanduk kerbau tersebut merupakan sisa upacara penguburan.

Rumah-rumah di Kampung Tarung dibangun mengelilingi kubur batu (menhir) dan altar suci yang berada di tengah kampung. Dulunya, seluruh warga Kampung Tarung adalah penganut Agama Marapu yang mempunyai tradisi menguburkan jenazah di dalam batu. Kini, meski sudah banyak Warga Kampung Tarung yang beragama Kristiani, tradisi peninggalan Marapu masih tetap dijalankan.

Air Terjun Lapopu
Selain memiliki banyak kampung adat dengan tradisinya yang masih sangat terjaga, Pulau Sumba juga diberkahi alam yang indah. Dengan topografi pulau yang berbukit-bukit, Sumba mempunyai banyak air terjun yang tersebar di berbagai penjuru pulau. Salah satunya adalah Air Terjun Lapopu yang disebut-sebut sebagai air terjun terindah di Sumba. 

 Jembatan bambu yang harus kita lalui untuk melihat dari dekat Air Terjun Lapopu

Di sore yang cerah, saya mengunjungi Air Terjun Lapopu. Untuk mencapai Air Terjun Lapopu, saya menyewa sepeda motor dari tukang ojek karena tidak ada kendaraan umum yang menjangkau tempat ini. Dari Kota Waikabubak, saya harus menempuh jarak sekitar 23 km, melewati jalan yang meliuk-liuk naik turun bukit. Kondisi jalan sudah lumayan bagus, tapi tak ada rambu-rambu/penunjuk arah sama sekali. Jadi, mau tak mau saya harus bertanya arah jalan kepada penduduk setempat agar tidak tersesat. Setelah sampai di tempat parkir, saya masih harus berjalan kaki sekitar 300 meter menyusuri tepian Sungai Lapopu dan menyeberangi jembatan darurat yang terbuat dari bambu.

 
 Air Terjun Lapopu yang indah

Air Terjun Lapopu terletak di Desa Lapopu, Kecamatan Wanokaka, Kabupaten Sumba Barat. Saat ini, air terjun cantik ini telah dimanfaatkan untuk Pembangkit listrik Tenaga Mini Hidro (PLMH) yang berkekuatan 1600 KWH. Air Terjun Lapopu bentuknya cukup unik. Tidak seperti air terjun kebanyakan di mana air terjun jatuh dari tebing yang berdiri tegak, Air Terjun Lapopu merupakan air terjun bertingkat (cascade waterfall). Air terjun ini jatuh dari tebing yang miring dan bertingkat-tingkat dengan total ketinggian sekitar 92 meter di atas permukaan sungai. Kemudian air menyebar di sela-sela pepohonan dan akhirnya jatuh ke sungai yang airnya jernih berwarna hijau toska. Di sungai tersebut bertebaran bebatuan aneka bentuk dan ukuran. Jika ingin merasakan kesegaran Air Terjun Lapopu, Anda bisa mandi di kolam yang berada di bawah air terjun.


Danau Waikuri
Keesokan harinya, dengan sepeda motor sewaan, saya bertolak menuju wilayah Sumba Barat Daya. Ada banyak tempat menarik di kabupaten yang baru terbentuk sejak pemekaran tahun 2007 ini. Tujuan utama saya adalah Danau Waikuri yang terletak di Desa Tanjung Karoso, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya.

 
Laguna Waikuri yang mungil tapi menakjubkan

Perjalanan menuju Danau Waikuri bisa dibilang penuh perjuangan. Selain letaknya yang jauh dan tersembunyi, kondisi jalan yang buruk dan tanpa rambu-rambu/penunjuk arah menjadi kendala tersendiri. Dari Kota Waikabubak, saya harus menempuh perjalanan sekitar 85 km untuk mencapai danau ini. Dari Waikabubak sampai Waitabula/Tambolaka, kondisi jalan sangat bagus karena merupakan jalan negara. Namun, dari Waitabula sampai ke Danau Waikuri kondisi jalan bervariasi, mulai dari jalan berasapal mulus, jalan beraspal yang berlubang di sana-sini hingga jalan tanah berbatu tanpa aspal sama sekali.
 
Pantai dengan tebing-tebing karang yang unik di ujung barat Danau Waikuri

Namun, segala perjuangan untuk mencapai Danau Waikuri terbayar lunas begitu saya sampai di danau tersebut. Danau mungil dengan air jernih berwarna hijau toska sanggup menghilangkan segala rasa penat dan lelah yang ada. Waikuri sebenarnya adalah sebuah laguna karena letaknya di pinggir pantai dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Jika Anda berdiri di ujung barat danau dan menghadap ke utara, Anda akan melihat laut di sebelah kiri dan Danau Waikuri di sebelah kanan. Air danau ini terasa asin karena berasal dari air laut yang masuk melalui celah-celah batu karang yang membentengi danau ini dari ganasnya ombak Samudera Indonesia. Danau Waikuri tak seberapa luas, mungkin hanya seluas lapangan sepak bola tapi keindahannya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Dengan dikelilingi bebatuan karang dan pepohonan nan rindang di sekitarnya, membuat danau ini semakin mempesona. Warna air danau juga sangat menarik karena dasar danau berupa pasir putih bersih dengan tebaran batu-batu karang di beberapa tempat yang membuat warnanya bergradasi mulai dari hijau tua, hijau kebiruan (hijau toska) hingga hijau muda. Aktivitas seru yang bisa kita lakukan di Danau Waikuri tak lain adalah berenang. Rasanya sangat menyenangkan bisa berenang di danau yang dangkal dengan air yang tenang, tanpa arus dan ombak. 

 
Pantai Mandorak yang berada di teluk mungil

Pantai Mandorak
Pulau Sumba terkenal akan keindahan pantai-pantainya yang masih perawan. Makanya, setelah puas bermain di Danau Waikuri saya segera berburu pantai. Untungnya tak jauh dari Danau Waikuri terdapat sebuah pantai yang menawan. Pantai Mandorak namanya. Pantai ini hanya berjarak 1,8 km dari Danau Waikuri.
 
 Pantai Mandorak yang eksotis dengan taburan batu-batu karang

Pantai Mandorak sangat unik. Pantai ini berada di sebuah teluk mungil di antara tebing-tebing karang. Bagian pantai yang berpasir putih dan bisa dimanfaatkan untuk berenang/bermain air hanya di teluk kecil ini. Selebihnya bibir pantai dihiasi tebing-tebing karang yang terjal dan curam. Ombak di Pantai Mandorak sangat besar dan cukup ganas karena merupakan ombak Samudera Hindia. Di pantai ini terdapat sebuah resort bernama Ticket To The Moon yang dimiliki oleh Orang Perancis. Bangunan utama di resort ini mengadopsi Rumah Adat Khas Sumba (Rumah Menara), dengan atap menjulang tinggi mirip Joglo. Tak pelak lagi, kehadiran resort ini semakin menambah eksotis Pantai Mandorak. 

 
Pantai Tanjung Karoso yang di ujung barat Pulau Sumba

Pantai Tanjung Karoso
Pantai menarik lainya yang layak untuk dikunjungi adalah Pantai Tanjung Karoso. Sesuai dengan namanya, pantai ini berada di sebuah tanjung, di ujung barat Pulau Sumba. Letaknya tak jauh dari Danau Waikuri dan Pantai Mandorak. Pantai Tanjung Karoso berpasir putih dengan air laut hijau kebiruan. Kontur pantai cukup landai sehingga cocok untuk berenang. Bila Anda menyukai tempat yang sepi, sangat cocok berkunjung ke Pantai Tanjung Karoso. Tak ada warung, kafe atau pedagang asongan di pantai ini, apalagi turis. Saat kedatangan saya, tak ada seorang pun pengunjung selain saya. Jadi saya seperti memiliki pantai pribadi. Mau berenang, main pasir atau bermalas-malasan di pinggir pantai, tak akan ada yang mengganggu. 

 
Pantai Pero yang unik dengan tanjung berpasir putih
                                                                                                                                             
Pantai Pero
Dari Pantai Tanjung Karoso saya bergerak menuju Pantai Pero. Pantai ini berada di dekat perkampungan muslim di Desa Pero Batang, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya. Pantai Pero bentuknya sangat unik. Pantai ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian kiri berada di sebuah teluk kecil dan bagian kanan langsung menghadap Samudera Hindia. Bagian pantai yang berada di teluk sangat tenang karena dibatasi sebuah tanjung berpasir putih. Di teluk ini telah dibangun sebuah dermaga, tempat favorit nelayan setempat menambatkan perahu-perahunya. Sedangkan bagian pantai yang menghadap laut lepas dibatasi tebing-tebing karang dengan ombak yang sangat besar. Tempat paling asyik untuk bersantai adalah di tanjung yang berpasir putih. Untuk menuju tanjung ini, Anda bisa berjalan kaki pada saat laut sedang surut. Ketika laut sedang pasang, mau tak mau Anda harus menyewa perahu nelayan untuk mencapainya.  

 
 Penjual tenun ikat di dekat Pasar Waikabubak

Oleh-oleh Khas Sumba

Sumba terkenal akan keindahan tenun ikatnya. Dengan motif yang unik dan warna-warni yang cantik, tenun ikat Sumba cocok untuk dijadikan oleh-oleh (souvenir) maupun koleksi pribadi. Anda tidak perlu bingung mencari tempat yang menjual tenun ikat Sumba. Selain di kampung-kampung adat seperti Kampung Tarung, Kampung Waitabar, dan Kampung Ratenggaro, tenun ikat bisa Anda dapatkan dengan mudah di Pasar Waikabubak. Bentuknya beragam, mulai dari kain, sarung, syal maupun selendang. Harganya bervariasi tergantung jenis barang dan kerumitan motifnya. Semakin rumit dan indah motifnya, tentu semakin mahal harganya. Karena penggemar tenun ikat, saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan berburu tenun ikat. Di hari terakhir saya di Sumba, pagi-pagi sekali saya meluncur ke Pasar Waikabubak yang letaknya hanya sekitar 200 meter dari hotel tempat saya menginap. Di trotoar, dekat Pasar Waikabubak, saya melihat tiga orang penjual tenun ikat. Ketiganya menjual tenun ikat aneka bentuk dan motif. Setelah melihat-lihat dan menawar-nawar, akhirnya selembar sarung dengan motif unik khas Sumba berhasil saya dapatkan.

How to Get There

Untuk mencapai Sumba, Anda harus terbang dulu ke Denpasar, Bali atau Kupang, NTT. Dari Denpasar/Kupang Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Sumba melalui dua gerbang/kotanya, yaitu Tambolaka di Sumba Barat Daya atau Waingapu di Sumba Timur. Setiap hari ada penerbangan reguler dari Denpasar/Kupang menuju Tambolaka dan Waingapu. Saat ini, maskapai yang melayani penerbangan dari Denpasar ke Sumba adalah Garuda Indonesia, NAM Air, dan Wings Air, dan Trans Nusa (hanya dari Kupang). Bila ingin menjelajah wilayah Sumba Barat Daya, Sumba Barat dan Sumba Tengah, sebaiknya Anda terbang ke Tambolaka. Sebaliknya, bila ingin menjelajah wilayah Sumba Timur, Anda harus terbang ke Waingapu. (edyra)***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

1 Response to "MENYAPA BUMI NUSA CENDANA"

  1. Indra Jaya Kurniawan says:
    12 April 2016 at 16:14

    wow info yang keren kak, kalau ingin tahu tentang cara membuat website yukk disini saja.. terimakasih

Post a Comment